PRIMBON RAMALAN JODOH

Cari Blog Ini

SINGA MANIA

Rabu, 23 Maret 2011

Sepakbola Membaca Sriwijaya FC dan Suporternya Serta sejarahnya

JIKA kita hidup di Inggris sekitar tujuh hingga empat abad lalu atau di masa kepemimpinan raja Edward II hingga Ratu Elizabet I, jelas tidak akan ditemukan sebuah klub sepakbola, baik amatir maupun profesional. Apalagi sebuah kelompok suporter tim sepakbola. Sebab setiap warga Inggris yang ketahuan atau tertangkap tengah bermain atau menonton sepakbola akan dihukum, termasuk pula kemungkinan dihukum mati.

Adapun alasan hukuman yang dijalankan Kerajaan Inggris itu, lantaran sepakbola dinilai sebagai olahraga liar atau yang tidak berbudaya. Permainan setan yang dibenci Tuhan.

Gereja-gereja di Inggris turut terpengaruh dengan sikap para raja ini. Mereka turut mengutuk atau mengkampanyekan pelarangan sepakbola. Seorang pemikir dan puritan di Inggris, Philip Stubbes, merupakan tokoh yang paling getol mengkampanyekan pelarangan sepakbola. Tahun 1583, dia menulis buku The Anatomie of Abuses, dan menuliskan tentang ratusan orang mati dalam satu pertandingan sepakbola.

Memang, bangsa Inggris, yang mulai mengenal permainan sepakbola sejak abad ke-8 Masehi, melakono permainan ini di lapangan luas, atau sebuah jalan yang panjangnya mencapai 4 kilometer. Pemainnya ratusan orang. Bolanya adalah tengkorak kepala manusia. Caranya berebut bola tanpa aturan atau dengan segala cara. Akibatnya, setiap kali pertandingan digelar, puluhan hingga ratusan orang tewas. Yang selamat, dipastikan mengalami cidera atau luka-luka.

Tapi semangat pembaharuan yang berkembang di Eropa, khususnya di Inggris, membawa sepakbola menjadi sebuah permainan yang lebih berbudaya, dan menjadi tontonan yang menarik.

Awalnya Giovani Bardi dari Italia, yang menulis mengenai aturan permainan sepakbola yang di Italia disebut Calcio pada tahun 1580. Setahun kemudian, 1581, Richard Mulcaster, pendidik atau kepala sekolah Merchant Taylors dan St. Paul, Inggris, menyerukan adanya pembatasan pemain dan wasit dalam sepakbola. Dia pun menolak unsur kekerasan dalam sepakbola. Dia menyarankan sepakbola dimainkan perempuan dan anak-anak.

Dua abad kemudian, Joseph Strutt, menyarankan sepakbola dimainkan oleh dua tim yang jumlahnya sama. Lalu, kedua tim harus berebut bola untuk memasukkannya ke gawang lawan yang terpisah, dengan jarak lapangan berkisar 70-90 meter.

Konsep Strutt ini kemudian dijadikan pijakan peraturan sepakbola modern. Pijakan ini mendasari lahirnya Football Association (FA) di Inggris pada 26 Oktober 1863, yang merupakan organisasi sepakbola tertua di dunia. Awalnya FA mengatur pemain sepakbola setiap tim sebanyak 15-21 orang. Tahun 1870, mereka memutuskan dengan 11 pemain setiap tim. Sepuluh tahun kemudian, 1880, diciptakan seorang penjaga gawang. FA juga memutuskan adanya wasit dalam setiap pertandingan, dan mematok luas lapangan, serta bola terbuat dari kulit binatang yang diisi angin.

Istilah “soccer” lahir dari FA. Charles Wreford Brown, mahasiswa Universitas Oxford, tidak sengaja menyebut Soccer ketika menjawab pertanyaan apakah dia seorang pemain rugby (rugger). “No, I am soccer,” katanya.

Sedangkan kata “football”, lahir dari kebencian atas permainan tersebut. Para raja di Inggris pada abad ke-17, menyebut permainan tersebut sebagai “fute-ball”. Lalu, sastrawan Inggris, William Shakespeare, mempopulerkan istilah ini buat mengejek seseorang dalam naskah drama King Lear, di mana ada tokoh mengejek tokoh lain yang dinilainya dungu dengan kalimat, “Foorball player.”

Kelompok Suporter Sepakbola

Sejarah supporter sepakbola dapat dikatakan sama tuanya dengan adanya sepakbola. Ciri utamanya sama seperti supporter olahraga massal lainnya, yakni mengekspresikan kegembiraan secara terbuka dan spontan. Beda supporter dengan penonton biasa yakni supporter yang lebih fanatic terhadap tim olahraga yang didukungnya. Dukungan ini diekspresikan dengan beragam cara baik di stadion maupun di luar stadion.

Kelompok supporter sepakbola yang terorganisir sebenarnya lahir setelah sepakbola menjadi industry. Kelompok supporter yang paling tergorganisir mungkin dapat dimulai dari Ultras di Italia. Saat itu supporter Ultras cukup unik saat mendukung timnas Italia, mereka tidak hanya duduk diam sambil sedikit teriak saat menonton pertandingan sepakbola. Mereka bernyanyi bersama, memakai kostum yang sama, membawa berbagai bendera, panji-panji, spanduk raksasa, poster, kembang api, serta bom asap warna-warni. Selanjutnya Tartan Army di Skotlandia, Rolligan di Denmark.

Sementara klub sepakbola juga memiliki kelompok supporternya. Misalnya Milanisti sebagai kelompok supporter AC Milan, Liverpudlian buat Liverpool, Laziale teruntuk Lazio, serta Internisti para suporternya InterMilan.

Ekspresi fanatic para supporter ini selain menguntungkan klub terkadang juga merugikan, ketika ekspresi fanatic mereka menjurus aksi kekerasan atau brutal. Misalnya tragedy Heysel, sebagai akibat perilaku hollygan Inggris, yang membuat semua klub di Inggris dilarang bermain di kompetisi antarklub Eropa buat beberapa tahun.Termasuk pula di Indonesia, banyak klub yang dihukum PSSI, akibat ulah para suporternya.

Beranjak dari perilaku dan manajemen kelompok suporter sepakbola di berbagai negara, termasuk di Indonesia, saya melihatnya terbagi dua kelompok. Pembagian kelompok ini berdasarkan karakternya.

Pertama, kelompok supporter terbuka. Disebut terbuka karena kelompok supporter ini membentuk sebuah kelompok yang diumumkan ke publik, tidak membatasi keanggotaan, serta menjadikan sepakbola sebagai alat buat mengaktualisasikan diri dan berekspresi . Meskipun sebagian tidak menyadarinya, kelompok supporter ini lebih tertarik pada hal-hal yang terkait dengan kebebesan berekspresi. Tak heran, kebebasan berekspresi yang mereka tunjukkan menjurus radikal.

Maka tak heran, di Indonesia kelompok supporter ini banyak diisi para remaja atau anak muda, kaum miskin kota, atau mereka yang merasa kebebasan berekspresinya telah dibatasi baik oleh keluarga, masyarakat, maupun negara.

Intinya, menjadi supporter sepakbola membuat mereka memiliki ruang buat bebas berpenampilan, bebas bicara, termasuk marah-marah.

Bagi sebuah klub, kelompok supporter ini sangat membantu. Sebab ekspresi mereka selain dapat mengangkat moral pemain, juga dapat menjatuhkan mental pemain lawan. Sayang ekspresi berlebihan atau radikal yang mereka tunjukkan, terkadang mendatangkan kerugian bagi klub seperti perkelahian dan aksi kekerasan terhadap supporter lain, wasit, masyarakat, bahkan pemain.

Bila dibandingkan dengan kelompok supporter terbuka di Eropa, meskipun memiliki kesamaan dalam perilaku, tapi soal kemandirian financial jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok suporter terbuka di Indonesia.

Para Liverpudlian, meskipun sebagian besar para buruh pelabuhan di Liverpool, mereka termasuk kelompok supporter yang mapan dalam mengelola keuangan dan organisasi. Di mana pun Liverpool bermain, mereka akan setia mendukung klubnya. Kehadiran mereka, mulai dari transportasi, penginapan, hingga pembelian tiket, semuanya berasal dari kelompok supporter. Tidak sedikit para buruh ini menambung uang hanya untuk membeli tiket pertandingan Liverpool dalam satu musim.

Di sisi lain, mereka pun menjalankan sejumlah usaha, yang mana keuntungannya digunakan buat kebutuhan kelompok suporternya.

Tapi, lemahnya kemandirian financial para supporter terbuka di Indonesia bukan hanya disebabkan lemahnya manajemen organisasi, juga disebabkan persoalan kondisi sosial dan ekonomi di Indonesia yang memang belum sebaik di Eropa.

Kedua, kelompok suporter tertutup. Berbeda dengan kelompok suporter terbuka, kelompok suporter tertutup ini, umumnya terdiri orang-orang mapan. Baik ekonomi maupun status sosial. Mereka menjadi supporter dalam kelompok kecil atau membatasi keanggotaan.

Meskipun menjadikan sepakbola sebagai ruang berekspresi, tapi mereka tidak sampai melakukan hal-hal yang radikal. Sebab jika mereka melakukan hal tersebut akan mengganggu identitas kemampanan yang dimiliki atau disandang.

Sepintas, kelompok supporter ini nyaris sama dengan penonton biasa. Tapi sebenarnya mereka juga fanatic seperti kelompok supporter terbuka. Mereka selalu menyaksikan setiap kali pertandingan klub sepakbola yang didukungnya, baik langsung ke stadion maupun melalui siaran televisi. Mereka sering mengenakan t-shirt atau atribut klub, berdiskusi panjang soal perkembangan pemain dan klub, termasuk menyertakan icon klub sebagai identitas pribadi. Tak jarang pula, mereka menjadi pendukung dana bagi kelompok supporter terbuka.

Nah, terkait dengan klub Sriwijaya FC yang menjadi kebanggaan dan icon masyarakat Sumatra Selatan saat ini, mereka memiliki supporter dari dua kelompok di atas. Yakni kelompok supporter terbuka dan tertutup.

Bagaimana Suporter Sriwijaya FC?

MESKIPUN memiliki dua kelompok supporter, seperti dikatakan di atas, tetapi saat ini ada fakta yang dihadapi Sriwijaya FC. Yakni kurang ramainya para supporter menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC langsung ke Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang.

Ada yang berpendapat, hal tersebut dikarenakan minimnya rasa memiliki supporter terhadap Sriwijaya FC. Pendapat tersebut, menurut saya kurang tepat. Sebab seseorang mengikrarkan dirinya sebagai supporter jelas akan tertanam rasa memiliki.

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menemukan fakta—meskipun belum dilakukan survei—setiap masyarakat Sumatra Selatan yang saya temui, selalu bangga dengan Sriwijaya FC. Mereka sangat menginginkan Sriwijaya FC meraih prestasi yang tinggi.

Meskipun kebanggaan ini terkadang ditambahi kritikan, misalnya soal minimnya pemain lokal yang bermain di Sriwijaya FC.

Beranjak dari perjalanan Sriwijaya FC di musim ini, saya menduga ada beberapa hal yang menyebabkan para supporter Laskar Wong Kito tidak memenuhi seluruh bangku Stadion Gelora Sriwijaya.

Pertama, lemahnya ”kampanye” pertandingan Sriwijaya FC sehingga tidak memberikan daya tarik yang membuat para suporter berbondong-bondong pergi ke stadion.

Dari pemberitaan di media massa yang saya baca dan simak, pihak manajemen maupun pelatih Sriwijaya FC lebih banyak ”mengeluh” kepada publik, setiap kali menghadapi pertandingan. Misalnya memberitakan soal pemain yang cidera, pemain yang terkena akumulasi kartu kuning, atau para pemain inti yang tidak lengkap.

Menurut saya, informasi seperti ini tidak baik dampaknya buat suporter. Suporter yang mendapatkan informasi ini justru menjadi ”lemah” keyakinan atas permainan Sriwijaya FC. Akibatnya mereka pun malas ke stadion, atau cukup menonton di televisi—jika pertandingan disiarkan televisi—atau ber-SMS-an dengan teman yang menonton langsung ke stadion.

Di sisi lain, para pemain lapis kedua, kepercayaan dirinya turut menjadi lemah lantaran terkesan mereka tidak dipercaya penuh sebagai pelapis pemain inti. Padahal ketika pemain inti tidak main, seharusnya semua pihak mendorong pemain lapis kedua buat membuktikan diri bahwa mereka juga pantas menjadi pemain inti.

Terhadap penilaian tersebut, alangkah baiknya ke depan pelatih, pemain, maupun manajemen menunjukkan sikap optimistis setiap kali menghadapi pertandingan. Sikap ini jelas akan mendorong kepercayaan diri para pemain, termasuk pula para suporter.

Seringkali kita menemukan kejutan ketika sebuah tim yang dianggap lemah justru menampilkan permainan terbaik dan memenangkan pertandingan. Ini semua tidak lepas dari kepercayaan diri para pemain buat menunjukkan semua kemampuannya.

Bagi saya, memenangkan pertandingan sebagai sebuah kejutan sungguh nikmat rasanya. Contoh terbaik yang pernah saya rasakan, ketika timnas Indonesia mampu menjebol gawang Uruguay meskipun akhirnya kalah. Saya melihat semua pemain Indonesia tampil penuh semangat dan percaya diri.

Kedua, rasionalitas tiket terhadap kelompok suporter.

Kelompok suporter terbuka, lantaran memiliki keterbatasan financial, tentu saja menginginkan tiket yang harganya terjangkau, sehingga mereka yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, kaum miskin kota, dapat menyaksikan langsung pertandingan Sriwijaya FC di stadion.

Guna menentukan besaran nilai harga tiket buat kelompok suporter terbuka ini, sebaiknya berdasarkan kesepakatan antara pihak manajemen Sriwijaya FC dengan mereka atau melalui survey yang dilakukan kelompok independen. Sehingga akan melahirkan harga tiket yang benar-benar terjangkau kelompok supporter terbuka.

Buat membatasi jumlah tiketnya, dapat diberlakukan dengan cara pembatasan atau pembagian tempat duduk di stadion.

Bila harga tiket sudah ditetapkan, jangan sekali pun pihak manajemen melakukan diskon harga tiket terhadap kelompok suporter tertentu. Jika harus dilakukan diskon sebaiknya terhadap semua harga tiket. Sebab perlakuan tidak adil akan mendatangkan rasa tidak adil yang berbuntut rasa malas menonton Sriwijaya FC ke stadion.

Sementara terhadap kelompok suporter tertutup, sebenarnya harga tiket tidak menjadi persoalan utama. Tapi kenyamanan atau fasilitas yang didapatkan mereka di stadion yang mungkin menjadi persoalan. Misalnya tidak bersihnya tempat duduk dan tangga, yang terkadang tercium bau pesing. Kemudian sikap penjaga tiket yang kurang simpatis. Termasuk pula pada saat menyaksikan pertandingan, sejumlah pedagang asongan hilir-mudik di antara mereka, sehingga suasana menjadi tidak nyaman.

Jadi, kemungkinan besar suasana kurang nyaman tersebut yang menyebabkan mereka malas hadir di stadion. Mereka lebih menghabiskan banyak uang dengan menonton pertandingan Sriwijaya FC di sebuah café.

Biar para suporter mapan ini hadir ke stadion, ada baiknya manajemen menyediakan pedagang resmi yang tampak bersih dan sopan. Mereka hanya berjualan sebelum pertandingan atau istirahat babak pertama, atau manajemen membuat sejumlah kantin yang berada di tribun ini. Selain tentunya, menjaga kebersihan tempat duduk dan sikap bersahabat para penjaga pintu masuk.

Ketiga, faktor lain, yang mungkin menyebabkan para suporter malas hadir ke Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, yakni mengenai jaminan keamanan terhadap kendaraan pribadi para suporter yang diparkir. Tidak sedikit suporter yang tidak hadir ke stadion lantaran cemas atau trauma soal adanya pencurian atau pengrusakan kendaraan.

Terakhir, mungkin soal kemacetan pada saat pulang dari menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC, yang membuat suporter malas ke stadion. Tapi soal kemacetan ini sangat tergantung dengan pembangunan fasilitas akses transportasi ke Jakabaring. Sehingga faktor ini mungkin akan teratasi setelah hadirnya Jembatan Musi III.

Kesimpulan saya, guna meningkatkan jumlah supporter dan penonton yang datang ke Stadion Gelora Sriwijaya guna menyaksikan pertandingan yanh dijalani Sriwijaya FC, selain perbaikan gaya publikasi atau kampanye pertandingan yang lebih optimistis, rasionalitas harga tiket, juga peningkatan pelayanan terhadap suporter atau penonton.

Selasa, 22 Maret 2011

Inilah Penentu Kongres PSSI Semoga Jadi Malaikat Persepakbolaan Indonesia Bukan Devil Indonesia

JAKARTA, Dua pengamat sepak bola nasional, Bob Hippy dan Edi Elison, merilis sejumlah nama pemegang hak suara di kongres PSSI mendatang. Menurut mereka, hal ini dilakukan guna mencegah adanya kecurangan dan penyelewengan nama-nama pemegang suara di kongres PSSI nanti.
Nama-nama ini terdiri dari 33 pengurus provinsi dan 67 pengurus klub dari Liga Super Indonesia, Divisi Utama, Divisi Satu, Divisi Dua, dan Divisi Tiga.
Daftar dan susunan ke-100 anggota PSSI pemilik hak suara ini, menurut Bob dan Edi, disusun berdasarkan susunan anggota yang secara sah telah mengikuti kongres PSSI di Bali, Januari 2011 lalu.
Kongres PSSI sendiri rencananya akan diadakan dua kali. Kongres pertama akan digelar pada 26 Maret mendatang untuk memilih Komite Pemilihan dan Komite Banding. Adapun kongres kedua pada 29 April mendatang untuk memilih Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Komite Eksekutif periode 2011-2015
DAFTAR PENGURUS PROVINSI (PENGPROV) PSSI:
1. ACEH: H. Zainuddin Hamid (Ketua), HT Hermansyah SE (Sekretaris)
2. SUMATERA UTARA: Dr HM Nur Rasyid Lubis (Ketua), Hery Riyanto SE (Sekretaris) 3. SUMATERA BARAT: H Harmin (Ketua), Sudirman (Sekretaris)
4. RIAU: Dr H Indra Mukhlis Adnan SE MH MM (Ketua), Kurniawan SE Ak (Sekretaris) 5. KEPULAUAN RIAU: Endy Maulidi SH (Ketua), Firsandy SE (Sekretaris) 6. JAMBI: Drs H Nalim SH MM (Ketua), Hadiyandra MPd (Sekretaris)
7. SUMATERA SELATAN: Dr HM Baryadi SE MM (Ketua), Augie Bunyamin (Sekretaris) 8. BENGKULU: Kurnia Utama S Sos MSi (Ketua), Asmawi Hamza BE S Sos (Sekretaris) 9. LAMPUNG: Hartarto Lojaya (Ketua), Fitri Susanda (Sekretaris) 10. BANGKA BELITUNG: Hidayat Arsani (Ketua), Abdul Ma’ruf (Sekretaris)
11. BANTEN (Drs H Satim Sofyan (Ketua), H Imik (Sekretaris) 12. DKI JAKARTA: (Hardi SE (Ketua), Zainul Arifin (Sekretaris) 13. JAWA BARAT: Drg H Tonny Aprilani M.Sc (Ketua), M Yeyet Hidayat (Sekretaris) 14. JAWA TENGAH: Sukawi J Soetarip (Ketua), Jauhar (Sekretaris) 15. DI YOGYAKARTA: Dr H Hadianto Ismangoen Sp.A (Ketua), Dwi Irianto SH (Sekretaris) 16. JAWA TIMUR: Abdul Mudjib (Ketua), Joko Tetuko (Sekretaris) 17. KALIMANTAN BARAT: Dr Jarot Winarno M.Med.Ph (Ketua), H Husni SH (Sekretaris) 18. KALIMANTAN TIMUR: Drs H Achmad Amins MM (Ketua), Slamet Bardianto (Sekretaris)
19. KALIMANTAN TENGAH: Suraria Nahan (Ketua), Hatir Sata Tarigan (Sekretaris) 20. KALIMANTAN SELATAN: H Hasnuryadi Sulaiman SE (Ketua), Drs Abdul Razak SH MAP (Sekretaris) 21. GORONTALO: Dr Ir Gusnar Ismail MM (Ketua), Abdullah Pala (Sekretaris) 22. SULAWESI UTARA: Drs Syahrial Damo Polii M.Si (Ketua), Hun Mokoagow (Sekretaris) 23. SULAWESI TENGAH: Erwin Sumampow (Ketua), Drs Kasmuddin Kasim (Sekretaris) 24. SULAWESI SELATAN: Drs HA Kadir Halid MRE (Ketua), Drs H Syamsudin Umar M.Si (Sekretaris)
25. SULAWESI TENGGARA: Drs Sabaruddin Labamba M.Si (Ketua), Ahmad Rivai Budiman SE (Sekretaris) 26. SULAWESI BARAT: Drs H Anwar Adnan Saleh (Ketua), Drs Isra M Yusuf (Sekretaris) 27. BALI: I Made Sumer (Ketua), Drs I Nyoman Sudjana A (Sekretaris) 28. NTB: HM Syamsul Luthfi SE M.Si (Ketua), H Suhaimi SH (Sekretaris) 29. NTT: Drs Frans Lebu Raya (Ketua), Drs Lambertus Ara Tukan MM (Sekretaris) 30. MALUKU: Dirk Soplanit SE M.Si (Ketua), Karol Patinasarani (Sekretaris) 31. MALUKU UTARA: Drs HM Iqbal Ruray M.Ba (Ketua), Maurice Tuguis (Sekretaris) 32. PAPUA: Barnabas Suebu SH (Ketua), M Usman Fakaubun (Sekretaris) 33. PAPUA BARAT: Drs Ishak L Hallatu M.Si (Ketua), John Tulus SH MH (Sekretaris)

DAFTAR PENGURUS KLUB PSSI YANG MEMILIKI HAK SUARA ISL:
1. PS SEMEN PADANG: Ir Erizal Anwar (Ketua), Fery Sarvino ST (Sekretaris)
2. PSPS: H Jeffri Nazir SE (Ketua), Drs EC H Heru Subagyo (Sekretaris)
3. SRIWIJAYA FC: H Hendri Zainudin (Dirut), Faisal Mursyid (Sekum) 4. PERSIJA: Toni Tobias Mahali ST (Ketua), Benny Erwin (Sekretaris) 5. PERSIB BANDUNG: H Umuh Muchtar (Ketua), Yudiana (Sekretaris) 6. PS PELITA JAYA: Gunawan Tamsir (Ketum), Aldy Wirawan (Sekretaris) 7. PERSIJAP JEPARA: Ahmad Marzuqi (Ketum), Arif Darmawan (Sekretaris) 8. PS AREMA: Dr H Muhamad Nur SH M.Si (Ketua), Siti Nurzanah SE MM (Sekretaris) 9. DELTRAS: Ayu Sartika Virianti (Manajer), H Moch Jamil (Sekretaris) 10. PERSELA: H Yuhronur Efendi SE MM (Ketua), A Farikh SH MM (Sekretaris) 11. BONTANG FC: H Udin Mulyono (Ketua), Kristin Manangkoda (Sekretaris) 12. PERSIBA BALIKPAPAN: H Syahril HM Taher (Ketua), Irfan Taufik (Sekretaris) 13. PERSISAM PUTRA: Drs H Achmad Amins MM (Ketua), Ahmad Subhan ST M.Si (Sekretaris) 14. PERSIPURA: MR Kambu (Ketua), Thamrin Sagala (Sekretaris) 15. PERSIWA: Jhon R Banua (Ketua), Agus Santoso (Sekretaris)
DAFTAR PENGURUS KLUB PSSI YANG MEMILIKI HAK SUARA DIVISI UTAMA:
1. PERSIRAJA: Ir Mawardi Nurdin M.Eng Sc (Ketua), Atqia Abubakar (Sekretaris) 2. PERSIS TEMBILAHAN: Drs H Mukhtar T MH (Ketua), Kurniawansyah Putra SH (Sekretaris) 3. PSAP SIGLI: Mohd Yasin MA (Ketua), Drs Mukhlis (Sekretaris)
4. PERSIKAB KAB. BANDUNG: Ir H Sofian Nataprawira MP (Ketua), Drs H Erick Juriara E M.Si (Sekretaris) 5. PERSITA TANGERANG: Eka Wibayu (Ketua), Budi Satya Kurniawan SH (Sekretaris) 6. PERSIPASI: Drs H Aan Suhanda SH M.Si MH (Ketua), Alexander Zulkarnaen (Sekretaris) 7. PSIM YOGYAKARTA: H Haryadi Suyudi (Ketua), Dessy Arfianto (Sekretaris) 8. PERSIK KEDIRI: Samsul Ashar (Ketua), Barnadi (Sekretaris) 9. GRESIK UNITED FC: HM Ali Mukhid SE (Ketua), Drs Syafiqi M Zain (Sekretaris) 10. PS MITRA KUKAR: Nur Ansar SE MM (Ketua), Trias Slamet (Sekretaris) 11. PERSEMAN MANOKWARI: Bons Rumbruren S.Sos (Ketua), Yan Warinusi (Sekretaris) 12. PERSIBA BANTUL: Drs H Briyanto MM (Ketua), Wikan Werdo Kusworo (Sekretaris) 13. PSBI BLITAR: H Herry Noegroho SE MH (Ketua), Drs Totok Subihandono M.Si (Sekretaris) 14. PERSEBAYA: Wishnu Wardana (Ketua), Wastomi Suheri (Sekretaris) 15. PERSIGO GORONTALO: H Adhan Dambea S.Sos MA (Ketua), Aven S Hinelo (Sekretaris)
16. PERSIDAFON DAFONSORO: Habol Melkias Suwae S.Sos MM (Ketua), Iwan Nasarudin BA (Sekretaris)
DAFTAR PENGURUS KLUB PSSI YANG MEMILIKI HAK SUARA DIVISI I:
1. PSBS BIAK: Melianus Yusuf Mariyen (Ketua), Simon Rumaropen (Sekretaris)
2. PERSBUL BUOL: Dr Ir H Gusnar Ismail MM (Ketua), Abdullah Pala SE (Sekretaris) 3. PERSEPAM PAMEKASAN: Hamzah Saleh (Ketua), Drs EC Jon Yulianto MM (Sekretaris) 4. PSBL LANGSA: Drs Zulkifli Zainon MM (Ketua), Hasan Basri (Sekretaris) 5. PERSSIN SINJAI: Andi Rudianto Asapa (Ketua)
6. MADIUN PUTRA FC: H Bambang Irianto SH MM (Ketua), Trubus Rekso Direjo ST M.Si (Sekretaris) 7. PERSEWANGI BANYUWANGI: Michael Edi Hariyanto SH (Ketua), Drs H Nanang Nur Ahmadi (Sekretaris) 8. PERSIP KOTA PEKALONGAN: Budi Setiawan (Ketua), Andi (Sekretaris) 9. PSBK BLITAR: M Samanhudi Anwar SH (Ketua), Drs Hakim Sisworo M.Si (Sekretaris) 10. PSGL GAYO LUES: Drs H Abubakar Djasbi (Ketua), Sukri (Sekretaris) 11. KSB SUMBAWA BARAT: Dr Zulkifli Muhadli SH MM (Ketua), Lukman S Bahtiar (Sekretaris) 12. PERSITEMA TEMANGGUNG: Bambang Sukarno (Ketua), Agus Suprianto (Sekretaris)
13. PERSID JEMBER: Drs H Sunardi MM (Ketua), Syaiful Bakhri (Sekretaris)
14. PERSEPAR PALANGKARAYA: Tuty Dau (Ketua), Rio Denamore Dau SH (Sekretaris)
DAFTAR PENGURUS KLUB PSSI YANG MEMILIKI HAK SUARA DIVISI II:
1. PS BUNGO: Sulaiman Ibrahim (Ketua), Riduwan A Ma.Pd (Sekretaris)
2. PERSIKS TELUK KUANTAN: Fidaus Oemar SH (Manajer), Al Firdaus (Sekretaris) 3. PS PIDIE JAYA: Drs HM Gade Salam (Ketua), Helmi Daud SE (Sekretaris) 4. PERSAL ACEH SELATAN: Ir H Azwar Asyek MM (Ketua), H Rustam Adifa SE (Sekretaris) 5. PERSAP PURBALINGGA: H Tasdi SH MM (Ketua), Drs Sidik Purwanto (Sekretaris) 6. PERSENGA NGANJUK: Sukarno Putro SH (Ketua), Purianto (Sekretaris) 7. PERSEBA BANGKALAN: H Imron Abdul Fattah (Ketua), Pinky Hidayati M Psi (Sekretaris) 8. PERSEKAP KOTA PASURUAN: H Ismail M Hasan SE (Ketua), Edy Hari Respati S (Sekretaris)
9. PERSEWAR WAROPEN: Drs Yesaya Buinei MM (Ketua), Tris Teo Yafet Waromi (Sekretaris) 10. PERSEKA KAIMANA: Fazlurachman Ombaier (Ketua), Yoyon Fahri Nisfu (Sekretaris) 11. PS PENAJAM PASER UTARA: Andi Irfan Harahap S.Sos (Ketua), Ir Saiful Rahman (Sekretaris) 12. PERSISUM SUMBAWA: Dr Ihsan Syafitri (Ketua), Aman Muslimin (Sekretaris)
DAFTAR PENGURUS KLUB PSSI YANG MEMILIKI HAK SUARA DIVISI III:
1. BINTANG JAYA ASAHAN: H Erwis Lubis (Ketua), Badia Raja Manurung (Sekretaris) 2. VILLA 2000: Asher Imaret Siregar (Ketua) 3. ISP PURWOREJO: Angko Setyarso Widodo (Ketua), Tomy Yonata (Sekretaris) 4. GRESIK PUTRA: Mujiyono SH M.Si (Ketua), Ludiono (Sekretaris) 5. MARTAPURA FC: M Hilman ST MT (Ketua), Abu Bakar (Sekretaris) 6. PERSEKAT KATINGAN: Ir Christantwo Tatel Ladju MM (Ketua), Alfrid S.Pd (Sekretaris) 7. PERSIBOLMUT: Hamdan D Soleng (Ketua), Asrifam Hani (Sekretaris) 8. MITRA BOLA UTAMA: Muchlisin (Ketua), Muftimul Rijal (Sekretaris) 9. PERSEDEN DENPASAR: IGN Jaya Negara (Ketua), Drs I Ketut Mardika (Sekretaris) 10. PERSIPUJA PUNCAK JAYA: Yustus Wonda S.Sos M.Si (Ketua), Eretius Gire A.Md.Tek (Sekretaris)

CATATAN:
Pengprov:
33  Suara ISL: 15  Suara Divisi Utama: 16  Suara Divisi I: 14 
Suara Divisi II: 12  Suara Divisi III: 10  Total Suara: 100 Suara.(brn)

Kamis, 10 Maret 2011

Kolev Siap Mundur Jika Masyarakat Menghendaki

PALEMBANG,Menanggapi banyaknya tekanan seiring dengan turunnya performasi Sriwijaya FC, pelatih Ivan Kolev menegaskan, meski perburuan juara semakin sulit, tetapi dia tidak akan menyerah ataupun mundur dari kursi kepelatihan. Sebab jika dia mundur artinya menyerah dan lari dari tangung jawab. Dia akan mundur jika masyarakat dan suporter serta manajemen menghendaki.
"Meski dalam kondisi seperti saat ini saya tidak menyerah, kalau mundur artinya saya lari dari tanggungjawab. Saya tentunya ingin menjaga nama baik saya," kata Kolev, Kamis (10/3/2011).
Menurut Kolev, mundur atau meninggalkan jabatan pelatih hal yang tidak ada masalah baginya dan hal itu sudah biasa. Tetapi selama manajemen dan masyarakat serta suporter mendukungnya maka dia akan bekerja terus untuk mengejar target.
"Saya tidak pernah mengucapkan kata menyerah, tetapi akan terus bekerja keras mengejar target juara. Tetapi jika kemudian masyarakat meminta mundur maka saya akan mundur dan itu tidak masalah," jelasnya.(brn)

"Ini baru seorang yang baru berjiwa Satria"

Senin, 07 Maret 2011

Hari Ini, KPPN Buka Pendaftaran Calon Ketum PSSI

Kesempatan bagi insan sepakbola Indonesia untuk menjadi calon ketua umum (calon ketum) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) terbuka lebar.

Itu menyusul ajakan Ketua Komite Penyelamat Persepakbolaan Nasional (KPPN), Syahrial Damopolii, bahwa seluruh insan sepakbola atau masyarakat Indonesia untuk mendaftar menjadi calon ketum PSSI.

Pendaftaran untuk calon Ketum PSSI dipastikan dibuka mulai hari ini Senin (07/03). Syahrial juga menyatakan bahwa pendaftaran tersebut terbuka bagi siapa saja, asal mau mengabdikan diri sebagai pengurus PSSI.

Syahrial juga menjamin bahwa pendaftaran tersebut akan berlangsung bersih dan tidak ada permainan-permainan kotor seperti yang dilakukan oleh PSSI di era Nurdin Halid.

"Kami membuka pintu pendaftaran kepada seluruh masyarakat sepakbola Indonesia. Yang ingin menjadi ketua umum, wakil ketua, atau komite eksekutif silahkan mendaftar di sekretariat KPPN. Pendaftaran akan dibuka hari Senin," ujarnya.

Syahrial membantah bahwa saat ini PSSI yang dia pegang adalah tandingan karena saat ini mayoritas pemilik suara telah mengajukan mosi tidak percaya sehingga PSSI tetap satu yaitu KPPN. Dengan didukung mayoritas suara, KPPN berhak menyelenggarakan tahap-tahap kongres sampai terpilihnya ketua umum PSSI yang baru.(brn)